Senin, 14 Maret 2011

THE MAN WHO CAN TALK TO FIRE - and his friend, Jurgen.

Mario Teguh Super Note - THE MAN WHO CAN TALK TO FIRE - and his friend, Jurgen.


Oleh: Mario Teguh



Saat saya kuliah di Indiana University untuk mendapatkan MBA dalam business management, saya pergi ke sebuah tempat camping dan peristirahatan di White Water, di negara bagian Wisconsin, bersama belasan rekan sesama mahasiswa yang berasal dari berbagai bidang studi.


Ada seorang rekan mahasiswa S3 dari Jerman yang belajar Quantum Physics. Dia seorang ilmuwan yang super cerdas dan setia kepada logika yang akurat.


Suatu ketika dia melihat saya sembahyang Maghrib. Dia menunggu saya selesai, dan langsung mengatakan: Mario, I never knew that you were primitive. Saya tidak pernah menduga bahwa kamu masih primitif.


Mengapa?, tanya saya.


Dan dia menjelaskan bahwa orang-orang primitif di jaman dulu juga berdoa seperti saya.


Apakah dengan primitif, berarti saya salah?, terus saya.


Dia kemudian menjelaskan dengan logikanya, bahwa perilaku berdoa kepada sesuatu yang tidak ada untuk mengharapkan keajaiban, adalah perilaku orang-orang primitif, yang tidak mampu berpikir dengan logika yang jernih, dan yang tidak berilmu.


Lalu, dengan sikap yang menghormati kekuatan logikanya, saya bertanya: Apa yang membuatmu demikian yakin bahwa Tuhan tidak ada?


Dia menjawab dengan cool; Tuhan tidak ada, karena Tuhan tidak bisa dideteksi dan diukur. Jika kita bisa mendeteksi dan mengukur keberadaan fisik Tuhan, maka kita bukan hanya yakin – tetapi bahkan TAHU bahwa Tuhan ada.


Emmm … saya membiarkan beberapa jenak berlalu dengan santun, sebelum saya membuka langkah pengujian saya terhadap logika rekan saya ini;


Jurgen, demikian namanya, jadi kamu akan menerima keberadaan sesuatu yang bisa dideteksi dan diukur, dan jika tidak - maka kamu menolak keberadaannya, bukankah begitu?


Of course!, dengan gaya bijak yang mungkin ditirunya dari salah satu profesornya.


Lalu saya teruskan, apakah ada hal-hal yang sampai saat ini belum diketahui keberadaannya, karena belum ada alat deteksi dan alat ukur-nya?


Dia menjawab cepat; Oh pasti!, tentu saja banyak materi di alam ini yang belum kita ketahui, karena kita belum memiliki alat untuk mendeteksi dan mengukurnya, Mario. And that’s a simple logic!, dia melihat saya dengan wajah seorang guru yang kasihan kepada muridnya yang lambat mengerti.


Oooh … (saya memulai penerbangan ke Nagasaki dengan sebuah bom atom di perut pesawat pembom saya) …


Jadi sebagai seorang ilmuwan, Jurgen tidak akan dengan semena-mena mengatakan sesuatu itu tidak ada, jika ia tidak bisa dideteksi dan diukur karena alat untuk itu belum ada?


Ya pasti dong?! Itu khan bertentangan dengan logika dan obyektifitas saya sebagai seorang pemikir yang logis.


Lalu, dengan suara selembut mungkin dari wajah yang sepengasih mungkin, saya bertanya;


Jumat, 04 Maret 2011

ARTI PERSAHABATAN BAGIKU

Persahabatan itu... Hal terindah yang pernah aku miliki.


Persahabatan itu... Hal yang merubah seluruh hidupku.


Persahabatan itu... Hal yang akan kukenang sepanjang hidupku.


Persahabatan itu... Hal yang tidak akan mati oleh waktu.


Persahabatan itu kudapatkan darimu, seseorang yang memberitahuku bagaimana itu cinta, bagaimana itu kasih...


Membawakan sejuta cerita indah yang tidak akan pernah terlupakan. Sekaligus membawakan cerita memilukan yang akan selalu menguatkan.


Mungkin tidak pernah kamu sadari, cara seorang rajawali melatih anaknya terbang, seperti itulah kamu menguatkanku. Memaksaku untuk selalu bertahan disaat yang paling memilukan. Memaksaku menahan air mataku meski mata telah tak sanggup menahan.


Kamu bukan orang terbaik yang aku kenal, tapi kamu sahabat terbaik hadiah dari Tuhan.


Tawa mu, tangis mu, perkataanmu, dan tulisan tanganmu, masih tetap menguatkan aku sampai saat ini.


Terima kasih telah menjadi sahabat terbaik untukku, dan terima kasih telah menanamkan sebuah impian dalam hatiku. Impian untuk selalu menjadi anak kebanggaan Tuhan.


__


di dedikasikan untuk semua orang yang selalu mengajarkan ku arti kasih.


"seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran."(Ams 17:17)